Sunday, October 9, 2016

Mengenang ... sobatku Dani

"Pisang goreng, Kopi gratis, Seorang sahabat dan Gerimis Hujan,... cukup sudah"  demikian Posting  di Facebook semalam.   Tulisan spontan itu dan  obrolan ringan tentang sahabat  serta lagu yang terdengar dalam perjalanan pulang ke rumah telah membawa  kenangan tentang  teman-teman dimasa lalu yang sangat kusyukuri, satu diantaranya: Dani.

Satu tulisan dibawah ini saya posting dalam perjalanan pulang ke Bandung di tahun 2010,  setelah mendengar kabar duka  sobatku Dani

Dani

" Orang bilang, kita "teman seperjuangan", terdengar heroik bukan? Dulu Kalau ada kamu pasti aku hadir disana. Kita teman seperjalanan menjelajah gunung hutan, menjalani dunia kampus dan menyusuri kota-kota yang kita singgahi dimalam hari hingga "berkelana dialam tak pasti",... waktu itu rasanya tak lengkap kalau kita tidak bersama,

Hingga waktu juga yang mengharuskan kita sibuk menjalani hidup yang fana ini, Kini masing-masing kita punya tanggung jawab. Tetapi percayalah, tidak ada yang berubah ... aku sudah mencoba membuktikan nya dan aku yakin kamu pun merasakan hal yang sama; kita tetap teman sejati.

Sekarang hanya doaku yang bisa menemanimu, selamat jalan sobat, selamat menghadap sang Kholik, aku masih tetap teman mu ... Hingga kini."

Ya Dani, malam ini saya ingat malam-malam masa muda yang  kita lewati dulu .. benar-benar  menyenangkan dan tak tergantikan ...

Sahabat, Hidup ini Indah  ... i love u all

Bandung, 9 Oktober 2016

Wednesday, June 18, 2014

Untuk Sobat Masa Kecil ku

Saya teman masa kecil dia,  sekitar 35 tahun yang lalu kami selalu bersama menyelusuri lorong-lorong  Taman Sari untuk pergi dan pulang sekolah.   Tekadang kami mencari rute baru jalan menuju pulang kerumah hanya untuk menikmati kebersamaan yang terasa singkat.  Manakala tersesat, saya selalu menjadi tumpuan mengambil keputusan memilih jalan, mana kala hujan ,..dia yang paling siap antisipasi!   

Regu kami bernama "Rajawali" di gudep 0745 danpernah Hiking menyusuri sepanjang sungai di lembah Cieumbuluit menuju hutan Pakar  Dago hingga  hutan Maribaya dan berakhir di desa Cipunagara - Subang!   kala itu, lagi-lagi  dia yang memberikan "minyak komando" untuk mengobati kaki saya yang lecet  (Imron - Pandeglang, masih ingat?) .  

 Sejak  kecil dia memang berkarakter  disiplin, serius, tertib, tepat waktu dan selalu sempurna mengerjakan banyak hal.   Dia selalu menjadi contoh yang baik oleh keluarga dan orang disekitar rumah saya, mungkin faktor itu  (... dan juga proses hidup yang berliku) yang  membuat saya malu hati menyapanya  ketika bertemu disuatu waktu kala SMA dan kuliah, ... kami hanya saling tersenyum dan melambaikan tangan (selepas SD, sepertinya kita tidak pernah ngobrol lagi kan?!). 

Dan,  .... tampa disasari, ... sosok mu sebagai  "teman yang baik"  telah menancap dan memotivasi  "daya kompetisi  hidup" saya dalam menapaki perjalan hidup yang berliku (dan indah)  ini ... 
 
Teman,  terima kasih atas masa kecil kita yang menyenangkan dan mengisnpirasi saya untuk tetap bertahan dijalur hidup yang normal,  semoga Allah SWT menerima amal ibadahmu dan juga ibadah kita, ... semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan ...

Berita duka mengenai kepergian mu ke Rahmatullah hari ini telah  mengingatkan saya untuk  menjaga Silaturahmi teman-teman kecil kita yang juga telah memberi warna perjalanan hidup ini  ...

teman-teman , .. .aku rindu kalian ...


Cihanjuang, 17 Juni 2014
Untuk sobat masa  kecilku;  Hendro Hermanto

Wednesday, November 28, 2012

Kisah tentang Anak Supir Angkot yang Jadi Direktur di New York



Inilah sebuah kisah tentang kegigihan, tentang impian yang tak sempat terucap, dan juga tentang makna ketekunan merajut nasib hidup.

Kisah ini berawal dari anak muda bernama Iwan Setyawan. Ia lahir di tahun 1974 dari desa udik di pinggiran kota Malang. Ayahnya hanya sopir angkot, dengan penghasilan yang amat pas-pasan. Ibunya hanya ibu rumah tangga biasa, yang tak kenal letih membesarkan dan mendidik anak-anaknya dengan penuh kesederhanaan.

Iwan menghabiskan masa kecil dan remajanya dalam hidup yang serba muram : lantai rumahnya hanyalah tanah tanpa tembok, ia harus berjualan makanan saat remaja demi menyambung biaya sekolahnya; dan ibu-nya berkali-kali menggadaikan apa yang ia punya hingga tandas. Semua demi menyambung hidup, demi membiayai pendidikan anak-anaknya.

Ia lalu menebus lelakon hidup yang muram itu dengan ketekunan belajar yang luar biasa : tak kenal letih ia belajar ditemani lampu petromaks yang kian redup. Ia meretas prestasi yang mengesankan saat SMA, hingga ia mendapat PMDK untuk kuliah di jurusan Statistik, IPB Bogor. Dari sinilah, pelan-pelan tirai hidup yang lebih terang disibak.

Selulus dari IPB, ia diterima bekerja di Nielsen Company, Jakarta : sebuah perusahaan riset pemasaran global yang ternama. Lantaran prestasi kerjanya yang mencorong, ia kemudian di-tugaskan untuk bekerja di kantor pusat Nielsen di New York. Selama 10 tahun ia berkelana di Manhattan, hingga mendudukup posisi Director, Client Management Nielsen Global Co.

Ada tiga serpihan pelajaran yang bisa di-ringkus dari kisah anak muda ini (yang kemudian ia tuliskan dalam novel realisme yang memukau berjudul 9 Summers 10 Autumns : Dari Kota Apel ke the Big Apple).

Lesson # 1 : Education is the best investment in your life.
Kisah mas Iwan menghadirkan semangat ini dengan nyaris sempurna. Ia tak akan mungkin mendapatkan PMDK ke IPB kalau prestasi belajar SMA-nya abal-abal. Dan ia juga bisa diterima di Nielsen lantaran bekal sarjana statistik dari kampus IPB.
Yang mengesankan adalah ketika ia bertekad menebus kemiskinannya itu dengan spirit belajar yang luar biasa : sejak ia sekolah SD hingga tamat kuliah, ia tak kenal lelah membaca buku-buku pelajaran/kuliah yang ia tekuni.

Lesson # 3 : Your Mother is Your Source of Success
Dari kisah yang dinarasikan dengan indah oleh mas Iwan, kita bisa melihat betapa besar peran ibu dia dalam mendidik anak-anaknya (Iwan adalah anak ketiga dari lima bersaudara; dan semua kakak adiknya relatif sukses).   Meski ibunya hanya menempuh pendidikan SD, namun ia menunjukkan talenta kecerdasaran ibu yang luar biasa : mengajarkan begitu banyak tentang ketegaran hidup, tentang etos ketekunan, dan juga tentang keikhlasan merajut nasib.

Ketika sudah menjadi eksekutif di kota New York, Iwan suka mengenang masa-masa kecilnya yang serba kekuarangan, mengenang ibunya yang harus menjual piring demi sesuap nasi dan biaya sekolah anak-anaknya.    Sambil memandang butiran salju dari jendela apartemennya di Manhattan, air mata anak muda itu sering luruh : ia selalu terkenang dengan kegigihan ibunya yang tak kenal lelah.

Lesson # 3 : Alumni Connection is Important Too. 
Iwan adalah lulusan IPB, dan jaringan alumni mereka yang tersebar dimana-mana itu (termasuk di Nielsen Co) sedikit banyak berperan dalam karir yang ia rajut.   Begitulah : kita mengenal adanya UI Connection, ITB Connection, IPB ataupun UGM Connection. Kuliah di kampus terkemuka memang bukan hanya dapat mutu; namun yang mungkin lebih penting adalah ini : jaringan alumni mereka yang tersebar dimana-mana (dan setiap saat mau membantu adik alumninya yang baru lulus).

Mari kita kenang,  betapa besar perjuangan Ibu dalam mendidik anak-anaknya, termasuk kita.



://strategimanajemen.net/2012/11/26/kisah-tentang-anak-supir-angkot-yang-jadi-direktur-di-new-york/#comment-13742


Pendidikan Keuangan Keluarga untuk Membangun Usaha dan Keuangan Mikro



Lembaga keuangan mikro, lembaga keuangan non-bank, dan koperasi memiliki peran penting dalam  mengembangkan Usaha Mikro yang telah berkontribusi besar terhadap daya tahan perekonomian Indonesia  terhadap gejolak  krisis perekonomian global. Menurut data  usaha kecil dan mikro pertahun 2010, terdapat 53.207.601 atau 98.94% dari pelaku usaha kecil, menengah dan besar, usaha mikro mampu menyerap tenaga kerja hingga mencapai 90.012. 694 orang atau 91.03% dari jumlah total tenaga kerja di Indonesia


Dalam  konfrensi Internasional "Microfinance Sustainability and Financial Inclusion” di Jogjakarta pada tanggal 22 – 23 Oktober 2012, ditekankan  pentingnya pengurangan kemiskinan dan pengangguran yang salah satu caranya bisa dilakukan melalui pemberian kredit mikro, untuk pengembangan usaha mikro dan juga pentingya gerakan financial inclusion.  


Dalam isu Financial Inclusion, apa yang bisa kita lakukan? 

Salah satu cara dalam gerakan Financial Inclusion untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional adalah dengan memperkuat ketahanan ekonomi keluarga melalui Pendidikan keuangan Keluarga.   

Pandangan ini didasarkan atas asumsi bahwa inti dari masyarakat atau kelompok primer yang paling penting dalam masyarakat  adalah keluarga,  segala sesuatu yang terjadi di tengah-tengah masyarakat diawali dengan sejauh mana keadaan dan kondisi dari anggota-anggota keluarga.   Kondisi masyarakat yang baik akan tercipta jika keadaan keluarga dalam situasi yang baik pula.

Pendidikan keuangan  akan memberikan pengetahuan, meningkatkan keterampilan dan mendorong perubahan sikap mengenai bagaimana merencanakan dan mengelola keuangan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup suatu keluarga 

Mengapa Penting?

  • Bagi masyarakat kecil, Pendidikan Keuangan  (Financial Education for The Poor) merupakan salah satu cara yang dinilai efektif untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Ketika masyarakat miskin telah memiliki pengetahuan yang baik dalam mengelola uang, maka mereka akan mampu membuat perencanaan keuangan untuk kebutuhan sehari-hari dan mengantisipasi kebutuhan keuangan di masa mendatang, mereka akan lebih cerdas ketika berhubungan dengan isntitusi keuangan, khususnya bagaimana mereka bersikap terhadap  biaya yang tidak terduga dan  hutang
  • Pendidikan keuangan  merupakan salah satu cara bagi Lembaga Keuagan Mikro (LKM)  atau Lembaga keuangan Non Bank, untuk mengedukasi  prilaku yang mendorong  nasabah untuk  tepat waktu mengembalikan pinjaman dan memperoleh pinjaman baru sehingga  mereka menjadi nasabah  yang loyal.
  • Seperti halnya LKM,  kalangan perbankan dapat memanfaatkan Pendidikan   keuangan sebagai  media  program Customer Satisfy dalam bentuk edukasi  untuk  mempromosikan produk-produk  mereka dan juga menciptakan nasabah yang loyal 
  • Bagi BDS Provider, tentunya Pendidikan keuangan bisa dijadikan sebagai salah satu produk BDS untuk memenuhi peran mereka meningkatkan daya saing LKM dan dapat menciptakan income apabila di jual secara komersial (jasa pendidikan  keuangan)

Pendidikan Keuangan,... menarik bukan?





Thursday, February 16, 2012

Membangun negeri Ini, harus dimulai dari desa!

" Membangun negeri ini, harus dimulai dari desa!"
(A.H. Nasution)

Saya kira apa yang disampaikan pak Nasution 60 tahun yang lalu masih relevan dengan kondisi terkini bangsa ini, khususnya apa bila dikaitkan dengan isu pengangguran dan penciptaan lapangan kerja. Mengapa? Karena eh karena ... daya serap tenaga kerja di sektor formal di perkotaan saat ini sudah jenuh, tidak sebanding antara lapangan karja yang tersedia dengan jumlah pencari kerja yang terus meningkat, mau dikemanakan para sarjana yang konon pintar-pintar itu?

Disatu sisi, salah satu permasalahan desa adalah kapasitas berwirausaha tidak tumbuh sehingga ekonomi desa mandeg, peluang menciptakan nilai tambah semakin sempit. Bagi mereka, bekerja di luar desa lebih menjanjikan ... akhirnya ... urbanisasi dan migrasi meningkat pula

Lalu, mengapa harus membangun desa? Apa yang menarik di Desa?

Dikaitkan dengan isu globalisasi dan problema perkotaan, desa memiliki peran yang strategis untuk dikembangkan sebagai penyangga kota dan penyeimbang alam misalnya : Green Productivity, alami, natural. Sisi lain yang luput dari perhatian adalah Sosial Capital atau nilai-nilai desa yang semakin langka diperkotaan, misalnya : keunikan, adat, erat dengan alam dan unit kerja sosial. Faktor lainnya yang tak kalah penting adalah mitra kita apa buila mengembangkan desa yaitu pemerintahan desa, sebagai pemerintahan terkecil yang memiliki otonomi, pemilik sekali gus penguasa wilayah desa. Bayangkan ... ketika kita membangun desa, peran kepala desa hampir mirip dengan peran kepala negara, anggap saja: membangun desa adalah membangun negara ...

Ayo anak muda ... mari balik ke desa


(Terima kasih Jendral, ... statement mu 60 tahun yang lalu, tetap memberi inspirasi ....)

Wednesday, February 15, 2012

Ada Apa Dengan Cinta?

Sudah menonon film Ada Apa Dengan Cinta?

Film ini karya Rudi Soejarwo, diluncurkan pada 8 Februari 2002 (10 tahun yang lalu!) menjadi salah satu film yang menandai kebangkitan kembali film Indonesia, selain mendapat penghargaan dari Festival Film Indonesia (FFI) juga diputar dibebeapa Negara termaksud Malaysia dan Jepang.

Film ini bercerita mengenai pertemuan dua remaja yang datang dari latar belakang yang berbeda. Cinta (Dian Sastrowardoyo) selalu bersama dengan sekelompok teman "gaul"-nya, dan Rangga (Nicholas Saputra) adalah "aku" yang selalu menyendiri dengan bacaan sastranya.

Cinta adalah gadis cantik yang supel, cerdas dan sangat percaya diri. Cinta memiliki segalanya, keluarga yang sangat mencintainya, sahabat setia dan perhatian cowok idaman di sekolahnya.

Semua mulai berubah ketika Cinta bertemu dengan Rangga, cowok angkuh dan dingin. Keduanya sama-sama mencintai buku dan puisi. Kehadiran Rangga telah mengganggu emosi Cinta.

Walaupun berbagai pertentangan mewarnai keduanya, terutama yang datang dari diri mereka sendiri, cinta akhirnya tumbuh juga. Karakter Rangga yang sulit di tebak dan sangat berbeda dari dirinya, menimbulkan sensasi baru dalam diri Cinta dan mulai merubahnya. Ketika konflik memuncak, Cinta mulai berubah di mata teman-temannya. Sehingga orang-orang bertanya-tanya, "Ada Apa Dengan Cinta?"

Lalu apa yang membuat film ini tetap menarik ditonton?

Kekuatan film ini adalah Pesan moral “Cinta” yang dikemas dengan sederhana, manusiawi, mendidik dan latar belakang cerita yang sangat “mengIndonesia”. Bermula dari Lomba Puisi (sudah lama tidak terdengar perlombaan seperti ini), ada buku sastra "Aku" karya Syumandjaya, toko buku bekas di Kwitang, tokoh sang bapak yang tersingkirkan di era Reformasi karena anti KKN dan tentunya rasa cinta yang tumbuh karena "ke Akuan" sosok Rangga yang berkarakter. Juga lagu-lagu karya Melly Goeslow dan Anto Hoed menjadi kekuatan yang mengiringi film ini dan tentunya,... puisi-puisi cinta Rangga yang membuat Cinta melambung …

Film seperti ini jarang kita temukan dalam film-film produk Indonesia yang pada umunnya minim pesan moral dan cenderung hedonis dewasa ini. Akhirnya, hanya sebuah karya yang baik yang akan menjadi monumen untuk diakui dan dikenang ...

Puisi Rangga untuk Cinta:

Perempuan datang atas nama cinta
Bunda pergi karena cinta
Digenangi air racun jingga adalah wajahmu
Seperti bulan lelap tidur di hatimu
yang berdinding kelam dan kedinginan

Ada apa dengannya?
Meninggalkan hati untuk dicaci
Lalu sekali ini aku melihat karya surga
dari mata seorang hawa

Ada apa dengan cinta?

Tapi aku pasti akan kembali
dalam satu purnama
untuk mempertanyakan kembali cintanya..

Bukan untuknya, bukan untuk siapa
Tapi untukku
Karena aku ingin kamu ...
Itu saja.

(mantap kan? …)

Tuesday, January 24, 2012

Arti Makna Hidup

Diakhir tahun 2011, saya menulis kalimat spontan " Selamat tahun baru teman, semoga 2012 akan lebih bermakna dalam hidup kita dan untuk sesama ... " untuk membalas dan menyampaikan ucapan kepada kolega bisnis melalui email dan sms, Spontan saja. Kata "makna" yang tertulis spontan itu membuat saya merenung, apa itu makna? apakah hidup kita suah bermakna?

Dalam konteks bahasa Indonesia, ada 2 pengertian kata makna, yaitu konotasi dan denotasi. konotasi adalah makna kiasan sedangkan Denotasi adalah makna sesungguhnya dari sebuah kata atau kalimat. Dalam interaksi sosial, berkomunikasi dengan masyarakat luas disarankan menggunakan kata atau kalimat yang bermakna denotasi agar tujuan pesan dapat dipahami dibandingkan dengan menggunakan makna konotasi yang cenderung menekankan pada keindahan. Saat berkomunikasi , setiap kata yang diucapkan harus memiliki arti yang sesungguhanya, bukan kiasan untuk menghindari perbedaan persepsi atau apresiasi.

Lalu bagaimana dengan makna hidup tadi? Apakah hidup ini telah bermakna yang sesungguhnya (denotasi), ataukan kita masuk dalam ketegori makna yang semu (konotasi)? Apakah seseorang yang kaya harta, berpendidikan dan berjabatan tinggi akan lebih bermakna hidupnya dibandingkan dengan seseorang yang miskin, berpendidikan rendah dan rakyat jelata?

Teman, bicara makna hidup ternyata memiliki prespektif bahasan yang luas dan tidak akan habisnya, karena "makna" akan memiliki arti yang sesungguhnya manakala hidup telah berakhir, hanya Yang Maha Esa yang mengetahuinya. Yang kutahu pasti, hidup ini akan lebih bermakna apabila hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dibandingkan hari ini dengan tetap beriman, mengajak kebaikan terhadap sesama, saling menasehati dan bersabar.

sekali lagi, ijikan saya mengucapkan: " Selamat tahun baru teman, semoga 2012 akan lebih bermakna dalam hidup kita dan untuk sesama ... "

Friday, June 24, 2011

Tiga Kunci Memulai Bisnis Dengan Cepat


Ada tiga kata penting untuk memulai bisnis dengan cepat, yaitu; (1) Memulai dari kecil – small: jangan berupaya untuk membesarkan dulu. Kemudian, (2) keep it simple: sederhana. (3) Dan selalu upayakan kekhususan atau specialized: fokus.


Kenapa memulai dari kecil? karena kalau bisnis itu dimulai dari kecil, maka biaya yang dikeluarkan akan aman, karyawan akan aman, pengelolaan anda akan lebih detil atau menyeluruh. Yang terpenting dalam proses ini adalah fokus bagaimana bisnis kita dapat memenuhi kebutuhan, keinginan atau harapan target pelanggan kita sehingga mereka puas dengan produk yang ditawarkan dan kita menghasilkan laba.

Sesederhana mungkin, karena bukan kita saja yang bingung, bisa jadi pelangganpun akan bingung kalau bisnis dimulai dengan besar, karena kita masih baru! Upayakan sesederhana mungkin, tetapi efektif melayanai pelanggan kita dan efektif dikerjakan oleh setiap individu dalam bisnis kita.

Selanjutnya jaga specialized, fokus. Karena dengan demikian semua resources, biaya, modal peralatan, karyawan, keterampilan semuanya bisa fokus untuk menyelesaikan satu masalah yang jelas. Selain itu pelanggan kita akan mudah mengenalnya karena sangat khusus. Apabila bisnis sudah dikenal lebih khusus maka kita akan lebih mudah menang dalam bersaing, Karena pembandingan selalu datang dari jelasnya fokus.


(inspirasi dari Om Mario Teguh)

Friday, June 25, 2010

Ide Bisnis dan Rencana Usaha

Apa kabar teman,

Saya kira ide yang kreatif akan lahir bersumber dari pemahaman atas kebutuhan dan keinginan (peluang) yang disertai dengan suatu keterampilan (Kompetensi). Apa bila tidak, maka ide hanya sekedar ide ... tampa realisasi




Darimana modalnya? Bagaimana kalau kita wujudkan ide bisnis tersebut menjadi sebuah rencana usaha (Business plan) yang benar-benar layak apa bila diwujudkan menjadi bisnis. Tentu kita harus kerja keras untuk mewujudkannya, dimulai dari melakukan riset pasar, membuat rencana pemasaran, rencana mengelola dan rencana keuangan.

Inilah investasi (keuntungan tertunda) kita sekaligus modal yang tidak akan pernah habis. Semakin teruji rencana bisnis kita, maka akan semakin meyakinkan untuk memperoleh modal pinjaman dari saudara, teman atau pemodal (investor) atau kita ajukan ke program pemerintah (bantuan) atau LSM (biasanya hibah) dsb. Atau karena yakin dengan renana bisnis tersebut, maka bisnis akan kita mulai dari yang kecil terlebih dahulu lalu perlahan-lahan kita besarkan, atau setelah bisnis berjalan kita mencari mitra (bekerjasama) agar lebih cepat menjadi besar

Ide Bisnis & Rencana usaha = mimpi kita, harapan kita yang membuat hidup ini semakin menggairahkan ...

Wednesday, June 23, 2010

Ide Bisnis


Setiap bisnis berasal dari sebuah ide. Ide Bisnis bisanya bersumber dari peluang yang menggambarkan ada kebutuhan dan keinginan terhadap suatu jenis produk, barang atau jasa. Ketika menemukan peluang, Anda perlu menjelaskannya kedalam sebuah ide bisnis. Ide bisnis biasanya singkat dengan penjelasan secara rinci 4 pertanyaan sebagai berikut





Apa
Produk barang atau jasa apa yang akan dijual? Ide bisnis harus berdasarkan pada yang terbaik yang Anda miliki untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan calon pelanggan kita. Mungkin Anda mempunyai pengalaman pada jenis bisnis tertentu atau Anda mempunyai keterampilan atau memiliki informasi yang memadai dari kebutuhan dan keinginan tersebut. Ide bisnis akan membantu mengarahkan apa yang sebaiknya harus dilakukan.

Siapa
Siapa yang akan membeli produk Anda? Pelanggan Anda bisa perorangan atau kelompok atau pebisnis lainnya. Mereka mungkin berada di suatu daerah atau tersebar di beberapa daerah, atau bahkan seluruh daerah. Apakah Anda hanya akan menjualnya kepada jenis pelanggan tertentu atau ke semua orang di suatu daerah? Sangat penting untuk menggambarkan secara jelas; kepada siapa produk Anda akan dijual?

Bagaimana
Bagaimana cara Anda menjual produk? Jika berencana untuk membuka sebuah toko, tentu hal ini akan mudah. Tetapi, bagaiman jika ide Anda memproduksi atau menjual jasa? Bagaiman kalau kita memiliki keterbatasan tempat?

Yang Mana
Kebutuhan dan keinginan pelanggan yang mana yang akan dipenuhi? Dengarkan calon pelanggan Anda, apa yang dibutuhkan dan apa yang mereka inginkan?

Produk Anda (barang atau jasa) harus menawarkan sesuatu yang “khusus” dan ”Berbeda” dibandingkan produk yang sejenis dari pesaing. Jika menawarkan terlalu banyak jenis produk ke berbagai macam jenis pelanggan, kita akan sulit untuk tetap eksis dan diperhatikan oleh mereka. Tetapi jika kita mengkhususkan satu atau sedikit produk yang ditawarkan kepada pelanggan yang spesifik, maka akan semakin mudah diterima oleh pelanggan.

Kebanyakan pengusaha baru membuat kesalahan yang sama ketika mereka mengembangkan ide bisnis. Mereka berpikir bahwa pasti akan ada permintaan dari pelanggan. Produk barang atau jasa yang baru bukan berarti akan selalu terdapat permintaan. Pada saat memulai bisnis, pastikan terlebih dahulu bahwa ide bisnis Anda berdasarkan kebutuhan dan keinginan pelanggan

Monday, April 5, 2010

3 kompetensi Kunci Untuk Para Profesional

Roda waktu terus bergerak, dan hidup terus menggelinding. Dalam perjalanan panjang itu kita terus menerus diminta untuk merekahkan segenap potensi dan kapabilitas. Kita terus ditagih untuk membentangkan ruang pertumbuhan agar self-competency bisa selalu bermekaran. Sebab, tanpa spirit untuk melakukan never ending self-improvement, tidakkah itu berarti kita telah membunuh asa untuk menjadi insan yang lebih sempurna?



Dan persis disitulah kita kemudian digedor pertanyaan yang bunyinya begini : adakah kompetensi kita hari ini lebih baik dibanding sebulan atau setahun silam? Adakah kompetensi kita selama ini bisa terus dibentangkan menuju titik-titik kesempurnaan? Atau sebaliknya : selama ini kompetensi kita going nowhere - redup dan kian terkoyak ditengah roda waktu yang terus bergerak?

Namun pertanyaan lain yang mungkin tak kalah penting adalah ini : kalaulah kita masih punya spirit untuk terus bergerak, untuk terus melenting, untuk terus menemukan ruang dimana kompetensi kita bisa menemukan tempat terindah agar tumbuh bermekaran; maka jenis kompetensi apa yang layak dikuasai? Kepingan kompetensi seperti apa yang mesti didekap erat agar kita bisa menjadi insan yang lebih sempurna, insan yang lebih paripurna?

Ditengah keriuhan hari Senin pagi yang mulai membuncah, ditengah tumpukan pekerjaan yang sebentar lagi mungkin akan menenggelamkan Anda – maka ijinkan saya untuk menyelipkan sekeping narasi tentang 3 jenis kompetensi yang barangkali penting untuk direnungkan. Ada begitu banyak ragam kompetensi yang mungkin harus kita kuasai; namun tiga kompetensi ini merupakan core competencies yang patut ditelisik dengan penuh kesungguhan. Inilah tiga jenis kompetensi yang barangkali akan membekali kita dalam petualangan panjang menjadi insan yang kian sempurna.

Kompetensi yang pertama adalah ini : strong need for achievement. Gantungkan cita-citamu setinggi langit, nak. Begitu kidung yang dulu pernah kita dengar dengan penuh nada syahdu dari ibu kita. Tidak pernah orang tua kita berujar : gantungkan cita-citamu setinggi plafon rumah, nak.

Maknanya jelas : hidup kita terasa akan lebih sumringah kalau saja dalam raga ini bersemayam sejenis keteguhan untuk mengukir hasil kerja terbaik. Sebuah orientasi yang kental dengan semangat untuk merajut sebuah karya yang bermakna (meaningful achievement). Sebuah sikap untuk mempersembahkan kepingan pekerjaan yang layak diapresiasi.

Dan sungguh, orientasi semacam itu akan mendorong setiap insan untuk menghamparkan tanggungjawab dan dedikasi, kegigihan dalam bekerja, keihklasan dalam bertindak, dan spirit saling bekerjasama demi tercapainya common goals and purposes. Tidakkah lingkungan kita (kantor, organisasi, perusahaan) akan menjelma menjadi taman yang begitu indah kalau setiap insan bisa punya kompetensi semacam itu?

Kompetensi yang kedua adalah ini : learning spirit. Alunan ilmu terus mengalir sederas ombak di lautan, dan pengetahuan terus menetes seperti hujan di pagi hari. Lalu kalau kita tidak memiliki kegairahan untuk terus memetik sejumput ilmu, bukankah kita hanya akan menjadi manusia-manusia yang tidak relevan?

Itulah kenapa kompetensi ini begitu penting : sebab dengan semangat untuk meringkus kepingan pengetahuan yang luas membentang, benih ketrampilan dan keahlian kita bisa terus tumbuh berkembang. Itulah kenapa Anda harus terus menenggelamkan diri Anda dalam beragam aktivitas pembelajaran : ikut seminar atau pelatihan yang relevan, menjelajah pengetahuan secara online, rajin membaca buku, atau selalu bergairah untuk melakukan sharing knowledge dengan rekan sekantor.

Kompetensi yang terakhir adalah : spirituality intelligence. Tentu saja hidup akan lebih mulia dan indah kalau segenap pekerjaan yang kita lakukan di kantor selalu bisa ditautkan pada sejenis pengabdian kepada Sang Pemberi Pekerjaan. Inilah sebuah kompetensi yang akan terus mengajak kita untuk terus bersandar pada etika moralitas, perilaku kerja yang sarat integritas, dan juga kuyup dengan tindakan yang penuh keluhuran.

Dan itulah sejenis kompetensi yang akan terus menggandeng kita untuk tenggelam dalam aura religiusitas yang menghanyutkan dan kemuliaan hidup yang menentramkan.

Sidang pembaca Blog Strategi + Manajemen yang budiman, demikianlah tiga jenis kompetensi dan etos hidup yang mungkin layak kita genggam dengan sepenuh sukma.

Achievement orientation yang menggumpal. Learning spirit yang terus membahana. Dan semuanya dibalut dalam spirituality intelligence yang penuh keagungan. Hidup barangkali akan terasa begitu wangi kalau saja kita bisa menjalankan tiga kompetensi ini dengan penuh keteguhan.

disadur dari http://strategimanajemen.net/2010/03/29/3-kompetensi-kunci-untuk-para-profesional-sejati/

Sunday, March 21, 2010

Inspirasi dari desa Labuan, Selong - NTB

Abon Ikan ”Ibu Rukmini”

Sumber Inspirasi akan selalu ada dimana saja dan terkadang tidak terduga. Suatu hari dalam kunjungan terakhir saya di kota Selong – Lombok Timur, badan dan pikiran yang semula lelah dan sumpek berubah menjadi semangat berlapis baja setelah bertemu dengan Novi .

”Mimpi saya, Abon Ikan akan menjadi ciri khas produk makanan daerah kami ”, ujar Novi salah seorang alumnus pelatihan SYB dari desa Labuan – Lombok Timur. Semula ia menjual ikan bakulan secara serabutan sejak tahun 2003 di Pasar Rakyat dekat rumahnya, setelah mengikuti pelatihan Start Your Business (SYB) yang diselenggarakan oleh Yayasan Advokasi Buruh Migran Indonesia (ADBMI) di Selong pada tahun 2007, ia melihat peluang membuat produk abon ikan.

Novi membuat Rencana Usaha dan mengajukan pinjaman sebesar Rp. 2 juta kep
ada Lembaga Keuangan Mikro ABMI. Mengapa Abon Ikan? Bagi Novi, memproduksi abon ikan lebih menguntungkan dibandingkan sekedar menjual ikan bakulan. Selain itu, ia dapat menampung ikan hasil tangkapan masyarakat disekitarnya sekaligus memperkerjakan para mantan Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang banyak berasal dari daerahnya. ”Sekarang saya memperkerjakan sekitar 10 orang ibu-ibu mantan buruh migran dan keluarganya, saya senang karena selain mendapatkan penghasilan juga dapat membantu mereka. Hidup terasa lebih berarti ” ujarnya .

Bagi Novi, SYB telah membantun dirinya mencari ide bisnis, mengelola keuangan (arus kas), menjalin kemitraan saat membangun bisnis dan strategi pemasaran. ”Setelah mengikuti pelatihan, saya menjadi lebih mengerti bagaimana berbisnis, terutama saat menjalin kemitraan dan melakukan pemasaran” ujarnya. Bagi Novi, kemitraan, kejujuran dan kepuasan pelanggan adalah kunci utama sukses dalam berbisnis

Ketika ditanya; mengapa merk produknya ”Ibu Rukmini”? Novi menjelaskan : ”Rukmini nama ibu saya, ia yang mengajarkan saya bagaimana membuat Abon Ikan, ia berjasa membuat hidup saya menjadi lebih baik sekarang.” Kini, Abon Ikan ”Ibu Rukmini” sudah beromset rata-rata 25 kg perbulan dan menjadi salah satu menu makanan vaforit bagi mereka yang menunaikan ibadah haji di Selong karena mudah dibawa, tahan lama dan tentu terasa nikmat. Novi terus berupaya mengembangkan bisnisnya, ” saat ini saya sedang mencari mesin mesin pres dan lem untuk kemasan serta timbangan di gital” ujarnya.

Anda berminat abon ikan dari Labuan - Selong? Silahkan kontak Langsung; Novi no telp. 081
8057 16085

Teman, sumber Inspirasi bisa datang dari mana saja ...

Thursday, December 17, 2009

6000 Km Perjalanan Trainer SIYB ILO-EAST di Sulawesi Selatan (sebuah pengalaman)

Misi : ”Menciptakan wirausaha baru dari anak muda yang putus sekolah , berusia 15 hingga 29 tahun sebanyak 2000 orang di 7 kabupaten : Makasar, Gowa, Takalar, Bantaeng, Wajo, Tana Toraja dan Toraja Utara “



Persoalan dilapangan yang dihadapi ternyata cukup kompleks. Selain masalah lokasi yang berjauhan dan teknis, kita terkadang juga dihadapkan oleh masalah rendahnya latar belakang pendidikan, masalah keluarga dan masalah sosial lainya


Dalam proses pelatihan, sering ditemui Ide Bisnis peserta masih labil, mudah berubah-ubah (sekedar ikut-ikutan) atau bahkan sama sekali tidak punya Ide Bisnis. Dalam kondisi ini, kami harus dituntut ekstra (terutama kesabaran) untuk mendengarkan permasalahan dan mengeksplorasi potensi peserta serta memberikan pencerahan gagasan sekaligus terus memotivasi mereka agar tidak patah semangat mewujudkan bisnis.


Mengapa kondisi ini bisa terjadi? Salah satu faktor adalah karena kita tidak melakukan proses seleksi dengan benar, jumlah calon peserta sudah ditentukan terlebih dahulu secara instan oleh lembaga mitra proyek kita, sehingga seluruh peserta dapat lulus dengan kondisi apapun. Mereka lupa bahwa SIYB adalah manajemen bisnis dengan persyaratan yang spesifik, tidak semua orang bisa mengikuti pelatihan ini.

Namun demikian, selalu saja ada peserta yang langsung dapat membuka usahanya setelah mengikuti pelatihan kita dan biasanya dilanjutkan dengan kegiatan konsultasi dalam hal perizinan , strategi pendirian usaha maupun kemungkinan mendapatkan dukungan permodalan. Kalau sudah seperti ini, melambung rasanya dan saya membayangkan akan luar biasa hasilnya apabila proses seleksi benar-benar dilakukan dalam pelatihan kita ...

Setelah 6000 Km menempuh perjalanan memyampaikan pelatihan di 7 kota, semakin kami paham bahwa SYB ternyata tidak sebatas kegiatan pelatihan kewirausahaan, melainkan suatu rangkaian kegiatan atau tahapan untuk membentuk atau mencetak seorang pengusaha secara terencana. Dimulai dari pemahaman Pemasaran program SIYB, seleksi peserta pelatihan, analisis kebutuhan pelatihan peserta, desain, implementasi pelatihan dan akhirnya memberikan dukungan setelah pelatihan kepada peserta untuk menyelesaikan rencana usaha dan mewujudkan bisnis mereka. ini adalah siklus yang tidak akan berputar terus, tiada ujung seiring dengan perkembangan bisnis klien kita

Teman,.... kami semakin paham dan sadar bahwa pelatihan hanyalah salah satu rangkaian proses siklus tersebut, selebihnya kita dituntut untuk memiliki komitmen dan kepedulian terhadap sesama serta kemampuan untuk menempatkan diri diantara mereka. Selain trainers, kita dituntut berperan sebagai Problem Solver, motivator dan menjadi teman yang dipercaya oleh mereka. Semangat ini ternyata telah memberikan nuansa tersendiri, karena tampa sadar kita telah turut berperan membantu merancang masa depan mereka ....

Dari catatan seorang teman trainers SIYB – EAST di Makasar - SULSEL














Tuesday, September 29, 2009

3 Pilar dalam Merajut Profesionalisme


Dalam bentangan perjalanan hidup yang terus bergulir, ada baiknya kita mencoba untuk sejenak membincangkan cerita tentang etos profesionalisme. Sebab kita tahu, terbitnya etos kerja yang profesional adalah sebuah rute kunci menuju jalan keberhasilan.

Tanpa dilumuri oleh etos kerja yang penuh profesionalisme, kita mungkin akan mudah tergelincir menjadi barisan para pecudang. Tanpa kesadaran batiniah untuk menjejakkan etos profesionalisme dalam segenap raga, kita mungkin akan segera menjadi insan-insan yang gagap dengan dinamika perubahan. Miskin prestasi, dan absen dari perjalanan panjang menuju manusia produktif, mulia nan bermartabat.

Kalaulah demikian adanya, lalu apa yang mesti diteguk untuk menjadi insan yang kuyup dengan guyuran etos profesionalisme? Disini kita mencoba mengeksplorasi tiga pilar kunci yang rasanya layak dicermati manakala ada asa untuk menjadi insan yang profesional.

Pilar yang pertama adalah achievement orientation. Dulu, seorang sosiolog terkemuka bernama David McLelland pernah menulis : salah satu faktor yang membuat sebuah komunitas/masyarakat lebih unggul dibanding yang lainnya adalah lantaran mereka dipenuhi dengan individu yang punya high need for achievement (atau sering disebut sebagai NAch = need for achievement).

Disini, need for achievement merujuk pada gairah untuk melakoni kerja yang sebaik-baiknya demi terengkuhnya hasil karya yang juga layak dibanggakan. Disana yang muncul adalah sebuah etos, sebuah dedikasi, dan sebuah tanggungjawab untuk meretas prestasi terbaik.

Ketika tugas dan tantangan membentang didepan kita, yang kemudian muncul adalah sebuah niat tulus untuk mentransformasi rangkaian tantangan dan tugas itu menjadi sebuah prestasi kerja yang adiluhung.

Orang-orang yang memiliki High NAch selalu percaya bahwa berderet tugas – apapun tugas dan pekerjaan itu – selalu merupakan sebuah rute untuk mempersembahkan karya terbaik. Dan sungguh, inilah elemen kunci yang mesti dipahat oleh siapapun yang berkehendak menjadi insan yang profesional.



Pilar profesionalisme yang kedua adalah ini : sebuah ikhtiar untuk terus belajar mengembangkan kompetensi diri. Sebuah tekad yang dibalut oleh semangat untuk mempraktekkan prinsip lifetime learning (belajar sepanjang hidup). Bagi mereka selalu akan ada celah dan ruang untuk terus memekarkan potensi dan kapasitas diri. Selalu akan ada jalan untuk merekahkan pengetahuan, membasuh ilmu dan merajut ketrampilan.

Bagi insan profesional semacam itu, proses belajar mengembangkan kompetensi selalu bisa direngkuh dari segala jurusan. Sebab moto mereka adalah ini : everyone is a teacher and every place is a school. Sebuah kalimat yang indah bukan? Ya, sumber ilmu selalu bisa dijemput dari siapapun – entah dari seorang guru, dari atasan, bawahan, rekan kerja atau dari para pelanggan. Dan sumber ilmu juga dicegat dari lokasi mana saja : dari sekolah, dari perpustakaan, dari pasar yang penuh keramaian, atau dari lingkungan kantor yang selalu penuh dinamika.

Pilar profesionalisme yang ketiga adalah yang paling penting. Pilar itu adalah ruh spiritualitas yang kokoh. Sebab bagi kita, profesionalisme yang paling hakiki hanya akan punya makna jika ia dibalut oleh semangat spiritualisme yang kokoh. Inilah sebuah semangat yang selalu percaya bahwa segenap laku jejak kehidupan profesional kita selalu ditautkan pada pengabdian kepada Yang Maha Mencipta. “Dan sesungguhnya, sholatku, ibadahku, dan hidup matiku hanyalah untuk Tuhan Sang Pencipta Alam”.

Sebab itulah, insan yang profesional tidak hanya cerdas dalam praktek manajemen modern, namun juga mereka yang hatinya selalu rindu akan mesjid (atau rindu pada gereja bagi para umat Kristiani, atau rindu pada pura bagi para pemeluk Hindu). Insan profesional sejati tidak hanya fasih bicara mengenai strategi dan leadership, namun mereka juga senantiasa fasih berdzikir memuja kebesaran Sang Pencipta.

Dan insan profesional sejati tidak hanya tangkas mengelola tugas dan mengambil keputusan, namun mereka juga selalu mau bangun ditengah malam : berkontemplasi, membangun sebuah meeting yang sangat intens dengan Sang Pemelihara Jagat Raya.

Itulah tiga pilar yang menopang bangunan etos kerja profesional : sebuah semangat untuk merengkuh prestasi terbaik, sebuah semangat untuk terus belajar, dan sebuah semangat untuk selalu mengabdi pada Sang Pemberi Hidup. Praktekkan tiga pilar kunci ini, dan Anda pasti akan berjalan menuju Kemenangan Sejati.

Selamat Idul Fitri. Mohon Maaf Lahir dan Batin.


disadur dari Yodia Anthariksa

http://strategimanajemen.net


Monday, July 13, 2009

Kenali Peserta Pelatihan Anda

Pagi itu, aktivitas saya dimulai dengan berdiskusi bersama rekan kita dari Ambon . Kami berdiskusi mengenai kesulitan kawan kita ini saat mendesain pelatihan; apakah output pelatihannya peserta menyelesaikan Rencana Usaha (Business Plan) ataukah hanya untuk meningkatkan keterampilan mereka membuat rencana bisnis? Kami juga membahas mengenai Game modul 2 ; permintaan dan penawaran , apakah di berikan atau tidak dalam pelatihannya.

Teman, kita harus mengetahui profil peserta pelatihan terlebih dahulu saat akan mendesain pelatihan, karena dari profil tersebut kita akan menjadi kreatif mendesain dan dengan sendirinya akan dapat menentukan target output pelatihan serta dapat memutuskan apakah game 2 akan diberikan atau tidak. Diibaratkan membuat kue yang berbahan dasar terigu, kita tidak dapat memastikan kue apa yang akan disajikan nantinya, apakah kue bolu kukus, kue tart atau kue lapis, apa bila tidak diketahui bahan pendukung membuat kue tersebut. Kalau pun dibuat sambil berjalan, bisa jadi akan aneh rasanya. Akan tetapi tentu akan berbeda kondisinya apabila bahan pendukung membuat kue sudah kita ketahui sebelumnya.


Demikian pula Pelatihan SIYB, ada hal-hal yang terlihat mudah, sepele dan kecil yang terkadang tidak dianggap penting atau terabaikan, padahal hal tersebut akan menjadi penyanggah utama dalam pelatihan dan juga penting dalam kesuksesan kita dimasa yang akan datang sebagai seorang pelatih. Terkadang kita hanya terfokus pada proses pelatihan didalam kelas dan tampa memperhatikan; siapa pesertanya, seperti apa latarbelakangnya ? apa kebutuhan mereka dalam pelatihan dan berbisnis? Yang menyedihkan adalah kembali membawa mereka kedalam suasana "Bangku sekolah" dan pelatih menjadi seorang penceramah yang menganggap dirinya lebih tahu dibandingkan pesertanya ...

Didalam pelatihan Pendidikan Orang Dewasa, hal tersebut tidak boleh terjadi. Oleh karenanya penting bagi seorang pelatih untuk melakukan tahapan seleksi peserta, analisis kebutuhan pelatihan dan desain pelatihan (berdasarkan proses analisis tersebut ). Apa bila tahapan tersebut sudah dilakukan, maka pelatihan akan lebih mudah diselenggarakan dan tentunya peserta akan puas, sehingga dukungan setelah pelatihan tentunya akan menjadi lebih mudah dilakukan.

Saran saya, jadikan siklus pelatihan SIYB sebagai patokan dalam setiap proses pelatihan (bahkan untuk pelatihan apapun!) . Lakukan setahap demi setahap siklus tersebut dan jangan terburu-buru untuk meloncat melewati tahapan sebelumnya. Jangan dulu pikirkan mengenai desain pelatihan sebelum mengetahui profil peserta pelatihan. Sekali lagi, lakukan dan lewati setahap demi setahap setiap siklus SIYB, kita harus banyak berlatih diri untuk dapat menyampaikan SIYB dengan baik dan menghasilkan pengusaha yang sukses. Kata kunci dalam proses ini adalah : praktek …, praktek…., praktek …dan fokus pada setiap tahapan.

Bagaimana menurut anda?

Salam edwar

Friday, June 12, 2009

Kisah cinta untuk akhir minggu kita


" ...


Malam mulai beranjak pagi dan saya masih saja berkutat menulis treatment syuting. Sebuah sapaan di messe
nger muncul ditengah tengah kebuntuan ide. Ah, dia . Seorang yang pernah mempesona dan menawarkan tempat berlabuh bagi ruang cinta dan rindu.

Kami memulainya sebagai teman, dan ketika harus mengakhiri karena ada tujuan lain dalam perjalanan hidup masing masing, kami tetap bersahabat. Sampai sekarang. Dia memang tak datang di hari pernikahan saya dulu. Dia hanya mengirimkan sahabatnya untuk menyampaikan salam. Tapi ketika anak saya lahir, ia mengirimkan sebuah hadiah yang manis.


Pun saat ia gagal lagi dengan percintaannya - Ia belum juga menikah - saya menemani makan sambil mendengarkan dia berceloteh tentang semuanya, karena ia memang membutuhkan teman bicara.

Ada sebuah misteri yang dinamakan rahasia kehidupan. Kita tak akan mampu menebaknya. Mengapa kadang semua tidak terjadi sesuai skenario terbaik yang telah kita susun. Dalam film Love Affair , di atas pesawat , Mike Gambril berjanji untuk bertemu kembali dengan Terry Mc Kay dalam waktu enam bulan kedepan. Hari, tanggal, jam dan tempat yang ditentukan. Di puncak Empire State Building, New York. Selama waktu penantian, mereka sepakat tidak akan melakuan kontak.

“ if you are not there, I will understand “ kata Mike.
“ No,No. I will be there. But if you are not there. I will understand “. Balas Terry.
Mengapa mereka membuat janji ? Karena sebelumnya mereka telah bertemu pada saat yang salah. Saat mereka masing masing sudah memiliki kekasih sendiri sendiri. Namun siapa pula yang bisa menduga arah datangnya epik cinta. Ia bisa datang pergi dan bias dengan tak diduga. Hubungan mereka dengan pasangannya kandas

Disisi lain ada harapan bahwa masih ada sisa beberapa bulan ke depan untuk menuntaskan janji yang telah mereka buat.

Pada hari dan jam yang ditentukan, Mike datang menuju puncak Gedung. Ia membawa sebuah lukisan yang digambarnya sendiri. Terry memakai syal memandang sebuah gunung.

Sementara Terry berjuang menembus kemacaten New York City, keluar dari taxi dan berlari lari sambil memandang ke atas. Tak sabar sampai di puncak gedung itu. Malang, karena terus melihat ke atas, ia tak melihat jalanan. Ia tertabrak mobil sehingga tak sadarkan diri.
Sore berganti malam dan hujan di puncak Empire State Building. Mike Gambril sendiri termenung sambil membawa lukisan itu. Menunggu dan tetap menunggu sampai petugas satpam mengingatkan bahwa tempat akan ditutup.

A promise in the air. Sebuah musik soundtrack dari Ennio Moriconne untuk film ini. Benarkah Janji yang telah dibuat akan membelenggu ? Padahal ada teman yang mengatakan bukankah cinta justru seharusnya membebaskan.
Kadang kita terlalu banyak berharap dengan sebuah kata yang dinamakan cinta. Berharap bahwa cinta akan membuat kita hidup dan memberikan jawaban atas pencaharian hidup yang selalu kita cari cari.
Kita yang terlalu menyederhanakan permasalahan atas nama cinta. Mungkin tidak sesimpel itu. Cinta itu tidak berpretensi apapun. Ia tidak pernah menuntut dan selalu jujur. Karena cinta hanya untuk cinta.

Menjelang akhir percakapan. Saya lama tercenung ketika menjawab pertanyaannya di penghujung subuh itu.
“ Are you happy ? “ katanya.
Tiba tiba saya teringat penggalan cuplikan dialog Terry MacKay dengan bibinya Mike Gambril yang sudah tua. Saat itu Terry menjawab, “ I guess I’m happy, I have everything I’ve wanted “.
Sang bibi dengan bijak menjawab. Sebenarnya bukan apa yang telah kamu miliki sekarang, tetapi apa yang akan kamu dapatkan setelah kamu memiliki semuanya. The thing is not what you’are having now, but what you get after you’ve got it.

Terlalu lelah hari ini. Kami menutup percakapan subuh ini dengan sopan , dan membiarkan kembali ke kehidupan masing masing. Apapun kelebat masuk dalam pikiran kami.
Barang kali saya akan mendoakannya dalam sholat subuh ini. Agar mendapatkan yang terbaik baginya. Hidup memang terlalu rumit untuk dipecahkan rahasianya.

A promise in the air. Dalam kerudung putih kau tersenyum. Kulepas dipelabuhan hatiku dalam mimpi mimpimu. Bukankah cinta tak harus berakhir dengan perkawinan. Dia dan saya selalu mengerti, tak pernah sekalipun membicarakan masa lalu yang indah. Membiarkan surat surat cinta terpendam dalam pojok pojok laci yang paling dalam.

... "

Ah, ... malam minggu datang lagi teman ...

dari http://blog.imanbrotoseno.com

Monday, April 6, 2009

4 Hal Penting Dalam Pendidikan Orang Dewasa


Didalam tulisan kali ini, saya akan berbagi mengenai 4 prinsip Pendidikan Orang Dewasa (POD) yang penting kita perhatikan saat menyelenggarakan pelatihan kewirausahaan sebagai berikut;
  1. Hukum kesiapan (The Law of readiness): Orang dewasa dapat dan akan belajar ketika ada kebutuhan untuk mengatahui sesuatu. Bayangkan apa bila kita berdiri dihadapan peserta yang tidak tertarik dan tidak menghiraukan materi yang tengah disampaikan, menyebalkan bukan? Oleh karenanya, penting untuk mengetahui kebutuhan peserta terhadap pelatihan, bila perlu dilakukan seleksi untuk memastikan hanya peserta yang membutuhkan pembelajaran yang hadir mengikuti pelatihan kita. Sebagai fasilitator (trainer), terkadang kita diminta hanya untuk mengisi beberapa sesi tampa mengetahui profil peserta pelatihan terlebih dahulu, apa yang harus dilakukan? Saat memulai sesi, cairkan suasana pelatihan (anda harus terampil dalam hal ini!) lalu tanyakan kepada peserta harapan mereka terhadap sesi yang akan diberikan dan pastikan harapan apa yang bisa diperoleh dan tidak bisa diperoleh peserta dalam sesi kita. Dengan cara ini, setidaknya akan membangkitkan rasa ingin tahu peserta terhadap materi dan membangun konsesus mereka untuk mendukung jalanya proses pembelajaran.
  2. Hukum efek (The Law of Efect): Orang dewasa akan belajar dengan baik di lingkungan yang menyenangkan. Titik kritis dalam poin ini adalah bagaimana memulai pelatihan dengan suasana yang menyenangkan. Cara yang sering dilakukan adalah menciptakan suasana santai dengan memutar lagu yang akrab ditelinga dan menyapa peserta yang baru hadir ketika akan memulai pelatihan. Disesi terakhir (sore hari), sebarkan kuesioner evaluasi harian mengenai perbaikan yang perlu dilakukan pada hari itu (apa bila Inhouse training) dan bacakan ringkasan evaluasi tersebut pada sesi pertama (pagi hari) keesokan harinya. Bacakan komentar-komentar yang kritis, lucu atau mengugah dan respon positif apa yang bisa dan tidak bisa diperbaiki. Hal ini akan efektif untuk membangun kebersamaan dan suasana yang menyenangkan.
  3. Hukum latihan (The Law of exercise) : Orang dewasa akan mudah mencerna pembelajaran dengan melakukannya berulang kali. Salah satu cara yang bisa digunakan adalah menyampaikan tujuan pembelajaran saat memulai sesi, kemudian menarik poin pembelajaran dan kesimpulan dari peserta saat mengakhiri sesi serta mengkaitkannya kembali dengan tujuan sesi saat menutup sesi. Tuliskan hasil pembelajaran di atas kertas Flipchart dan tempelkan didinding dan jangan dilepas hingga pelatihan berakhir sehingga peserta memiliki peluang untuk membacanya kembali. Diakhir pelatihan ajak peserta untuk memilih flipchart yang paling menarik dan menjelaskan mengapa topik itu menarik bagi mereka. Dengan cara pengulangan seperti ini diharapkan akan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta dapat mempengaruhi perubahan sikap mereka yang sesuai dengan tujuan pelatihan.
  4. Hukum asosiasi (The Law of association) : Setiap fakta, ide, atau konsep baru dapat dipelajari jika dikaitkan atau dihubungkan dengan apa yang telah diketahui peserta dalam keseharian mereka. Saat memulai, sampaikan tujuan sesi, apakah untuk meingkatkan pengetahuan atau keterampilan atau merubah perilakaku peserta pelatihan. Kemudian buka sesi dengan kalimat tanya terbuka, mengapa sesi yang akan dipelajari penting bagi peserta pelatihan? Bangun partisipasi dan dialog, jadikan kita sebagai pendengar aktif dan berempati dengan peserta saat mengemukakan pendapatnya. Apa bila ada sesuatu yang tidak jelas, lakukan pengulangan, mentalah tanggapan atau tanyakan pendapat dari peserta lain. Arahkan proses diksusi menuju target pembelajaran dan ajak peserta untuk membuat kesimpulan. Dalam POD, peserta biasanya akan senang berbagi pengalaman dan memberikan pendapat , oleh karenanya Keterampilan memfasilitasi mutlak dibutuhkan dalam proses ini
Teman, perhatikan 4 hal ini dalam pelatihan anda, pastikan anda mengetahui profil peserta, persiapkan tim kerja anda saat memulai dan menjalankan pelatihan, lakukan pengulangan pembelajaran dengan menggunakan metode dan alat bantu yang tepat serta bangun partisipasi dan dialog dengan peserta. Apa bila 4 hal ini dapat dilakukan, maka peserta akan mendapatkan sentuhan dan pengalaman pembelajaran yang berbeda dan menyenangkan .

salam
edwar

Monday, March 30, 2009

Pelatihan Entrepreneur, mengapa harus metode pendidikan orang Dewasa?

Pernah mendengar Andragogy ? Dalam bahasa kita diterjemahkan “Pendidikan Orang Dewasa”, suatu metode pelatihan yang lebih mengutamakan proses saling berbagi pengetahuan (Sharing of Knowledge) antara pelatih dan peserta. Dalam proses pelatihan ini, peserta akan menjadi sumber pembelajaran utama,

sedangkan pelatih lebih dominan berperan sebagai fasilitator untuk mencapai tujuan pembelajaran, sehingga akan efektif meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan perubahan sikap peserta pelatihan menjadi seorang entreprenenur yang tangguh.

Lalu, mengapa dalam pelatihan entrepreneur harus menggunakan pendidikan orang dewasa? Setidaknya ada 2 alasan ;

  1. Karakteristik. Seorang pelaku usaha (yang berpotensi menjadi seorang entrepreneur) biasanya mempunyai kepribadian yang kuat dikaitkan dengan bisnisnya. Pada tahap awal, ambisi perusahaan akan sama dengan ambisi pribadi, sehingga untuk mengembangkan bisnisnya juga harus dikembangkan pribadinya. Oleh karenanya, isu Pemberdayaan Usaha Kecil tidak akan terlepas dari isu pemberdayaan manusianya, tidak cukup hanya bisnisnya saja. Hal ini sangat prinsip namun sering sekali terabaikan.
  2. Linkungan. Budaya dan lingkungan akan sangat berpengaruh terhadap seorang entreprenenur, mereka akan lebih mudah belajar dari proses bekerja (aktif) dalam lingkungan yang dinamis dan memberi sugesti positif dalam proses pembelajaran. Kata kunci dalam hal ini ; " Pembelajaran adalah proses perubahan sikap yang dihasilkan dari pengalaman, secara berulang-ulang ", peserta pelatihan harus diposisikan sebagai subyek atau pelaku utama, bukan obyek .
Berkatian dengan 2 hal tersebut diatas, pelatihan dengan menggunakan Metode Pendagogy (pengajaran) yang bercirikan : satu arah dan pelatih sebagai sumber utama pembelajaran tidak akan pernah berhasil menciptakan seorang entrepreneur. Pelatihan dengan metode ini hanya akan menjadikan pesertanya merasa digurui , menjadi pendengar pasif atau bahkan tertidur didalam kelas.

Lagipula, .... bag
aimana mungkin menjadi entrepreneur yang tangguh apa bila belajar dari seseorang (pelatih) yang bukan pelaku bisnis? Apalagi tidak pernah berbisnis!

Monday, March 23, 2009

BAGAIMANA MENJADIKAN ASOSIASI KUAT?

Teman, anda aktif dalam keanggotaan asosiasi? Manfaat apa yang anda peroleh dari asosiasi? Apa bila anda dapat menjawab 2 pertanyaan tersebut, maka ini bertanda baik bagi asosiasi dan keanggotaan anda. Karena asosiasi idealnya didirikan secara sukarela oleh anggotanya untuk mencapati tujuan bersama, saling menolong dan saling mendukung untuk mengembangkan dan meningkatkan lingkungan usaha anggotanya.


Bagaimana mengeloa asosiasi menjadikan kuat dan eksis? Setidaknya ada 3 hal (sederhana) harus diperhatikan namun sering sekali terabaikan. Pertama; Apa alasan mendirikan asosiasi ? Jawaban mendasar dari pertanyaan ini harus berangkat dari permasalahan anggota, tidak cukup hanya bersumber dari tujuan asosiasi, atau misi atau visi yang cendrung “konseptual" . Selain tajam, jawaban yang bersumber dari permasalahan yang tengah dihadapi calon anggota tersebut akan mencerminkan misi dan bentuk layanan yang akan diberikan asoisasi terhadap anggotanya.


Kedua; Bagaimana menarik anggota?
Misi dan bentuk layanan yang jelas akan mempermudah proses recruitment anggota. Akan terjadi seleksi alam, karena hanya anggota yang merasa akan mendapatkan manfaat yang akan mengajukan diri bergabung menjadi anggota secara sukarela. Tahap berikutnya, pengelola harus kreatif saat melakukan proses penerimaan anggota, misalnya dengan membuka stand penerimaan anggota (open days) atau memberikan harga promo iuran saat pendaftaran atau dengan mencoba terlebih dahulu manfaat asosiasi baru mendaftar. Semakin kreatif dalam proses penerimaan, maka akan semakin kuat image asosiasi terbangun.


Ketiga; Bagaimana mempertahankan anggota asosiasi?
Setidaknya ada 3 hal yang perlu dilakukan untuk mempertahankan anggota asosiasi. Pertama adalah dengan Tangibel benefit, bagaimana asosiasi dapat memberikan manfaat yang langsung dirasakan oleh anggota berdasarkan bentuk layanan yang telah disepakati. Kedua adalah dengan menyelenggarakan pertemuan rutin (regular meeting) untuk membahas isu-isu anggota yang berkaitan dengan misi asosiasi dan Ketiga adalah dengan upaya mengakomodasikan suara aggota
Apa bila ketiga pertanyaan mudah tersebut dapat dijawab dengan SMART (Specific, Measurable, Achievable, Realistic dan Time bond), maka sepertinya asosiasi akan dapat eksis di tengah-tengah anggotanya.

Salam

edwar