Thursday, February 16, 2012

Membangun negeri Ini, harus dimulai dari desa!

" Membangun negeri ini, harus dimulai dari desa!"
(A.H. Nasution)

Saya kira apa yang disampaikan pak Nasution 60 tahun yang lalu masih relevan dengan kondisi terkini bangsa ini, khususnya apa bila dikaitkan dengan isu pengangguran dan penciptaan lapangan kerja. Mengapa? Karena eh karena ... daya serap tenaga kerja di sektor formal di perkotaan saat ini sudah jenuh, tidak sebanding antara lapangan karja yang tersedia dengan jumlah pencari kerja yang terus meningkat, mau dikemanakan para sarjana yang konon pintar-pintar itu?

Disatu sisi, salah satu permasalahan desa adalah kapasitas berwirausaha tidak tumbuh sehingga ekonomi desa mandeg, peluang menciptakan nilai tambah semakin sempit. Bagi mereka, bekerja di luar desa lebih menjanjikan ... akhirnya ... urbanisasi dan migrasi meningkat pula

Lalu, mengapa harus membangun desa? Apa yang menarik di Desa?

Dikaitkan dengan isu globalisasi dan problema perkotaan, desa memiliki peran yang strategis untuk dikembangkan sebagai penyangga kota dan penyeimbang alam misalnya : Green Productivity, alami, natural. Sisi lain yang luput dari perhatian adalah Sosial Capital atau nilai-nilai desa yang semakin langka diperkotaan, misalnya : keunikan, adat, erat dengan alam dan unit kerja sosial. Faktor lainnya yang tak kalah penting adalah mitra kita apa buila mengembangkan desa yaitu pemerintahan desa, sebagai pemerintahan terkecil yang memiliki otonomi, pemilik sekali gus penguasa wilayah desa. Bayangkan ... ketika kita membangun desa, peran kepala desa hampir mirip dengan peran kepala negara, anggap saja: membangun desa adalah membangun negara ...

Ayo anak muda ... mari balik ke desa


(Terima kasih Jendral, ... statement mu 60 tahun yang lalu, tetap memberi inspirasi ....)

Wednesday, February 15, 2012

Ada Apa Dengan Cinta?

Sudah menonon film Ada Apa Dengan Cinta?

Film ini karya Rudi Soejarwo, diluncurkan pada 8 Februari 2002 (10 tahun yang lalu!) menjadi salah satu film yang menandai kebangkitan kembali film Indonesia, selain mendapat penghargaan dari Festival Film Indonesia (FFI) juga diputar dibebeapa Negara termaksud Malaysia dan Jepang.

Film ini bercerita mengenai pertemuan dua remaja yang datang dari latar belakang yang berbeda. Cinta (Dian Sastrowardoyo) selalu bersama dengan sekelompok teman "gaul"-nya, dan Rangga (Nicholas Saputra) adalah "aku" yang selalu menyendiri dengan bacaan sastranya.

Cinta adalah gadis cantik yang supel, cerdas dan sangat percaya diri. Cinta memiliki segalanya, keluarga yang sangat mencintainya, sahabat setia dan perhatian cowok idaman di sekolahnya.

Semua mulai berubah ketika Cinta bertemu dengan Rangga, cowok angkuh dan dingin. Keduanya sama-sama mencintai buku dan puisi. Kehadiran Rangga telah mengganggu emosi Cinta.

Walaupun berbagai pertentangan mewarnai keduanya, terutama yang datang dari diri mereka sendiri, cinta akhirnya tumbuh juga. Karakter Rangga yang sulit di tebak dan sangat berbeda dari dirinya, menimbulkan sensasi baru dalam diri Cinta dan mulai merubahnya. Ketika konflik memuncak, Cinta mulai berubah di mata teman-temannya. Sehingga orang-orang bertanya-tanya, "Ada Apa Dengan Cinta?"

Lalu apa yang membuat film ini tetap menarik ditonton?

Kekuatan film ini adalah Pesan moral “Cinta” yang dikemas dengan sederhana, manusiawi, mendidik dan latar belakang cerita yang sangat “mengIndonesia”. Bermula dari Lomba Puisi (sudah lama tidak terdengar perlombaan seperti ini), ada buku sastra "Aku" karya Syumandjaya, toko buku bekas di Kwitang, tokoh sang bapak yang tersingkirkan di era Reformasi karena anti KKN dan tentunya rasa cinta yang tumbuh karena "ke Akuan" sosok Rangga yang berkarakter. Juga lagu-lagu karya Melly Goeslow dan Anto Hoed menjadi kekuatan yang mengiringi film ini dan tentunya,... puisi-puisi cinta Rangga yang membuat Cinta melambung …

Film seperti ini jarang kita temukan dalam film-film produk Indonesia yang pada umunnya minim pesan moral dan cenderung hedonis dewasa ini. Akhirnya, hanya sebuah karya yang baik yang akan menjadi monumen untuk diakui dan dikenang ...

Puisi Rangga untuk Cinta:

Perempuan datang atas nama cinta
Bunda pergi karena cinta
Digenangi air racun jingga adalah wajahmu
Seperti bulan lelap tidur di hatimu
yang berdinding kelam dan kedinginan

Ada apa dengannya?
Meninggalkan hati untuk dicaci
Lalu sekali ini aku melihat karya surga
dari mata seorang hawa

Ada apa dengan cinta?

Tapi aku pasti akan kembali
dalam satu purnama
untuk mempertanyakan kembali cintanya..

Bukan untuknya, bukan untuk siapa
Tapi untukku
Karena aku ingin kamu ...
Itu saja.

(mantap kan? …)

Tuesday, January 24, 2012

Arti Makna Hidup

Diakhir tahun 2011, saya menulis kalimat spontan " Selamat tahun baru teman, semoga 2012 akan lebih bermakna dalam hidup kita dan untuk sesama ... " untuk membalas dan menyampaikan ucapan kepada kolega bisnis melalui email dan sms, Spontan saja. Kata "makna" yang tertulis spontan itu membuat saya merenung, apa itu makna? apakah hidup kita suah bermakna?

Dalam konteks bahasa Indonesia, ada 2 pengertian kata makna, yaitu konotasi dan denotasi. konotasi adalah makna kiasan sedangkan Denotasi adalah makna sesungguhnya dari sebuah kata atau kalimat. Dalam interaksi sosial, berkomunikasi dengan masyarakat luas disarankan menggunakan kata atau kalimat yang bermakna denotasi agar tujuan pesan dapat dipahami dibandingkan dengan menggunakan makna konotasi yang cenderung menekankan pada keindahan. Saat berkomunikasi , setiap kata yang diucapkan harus memiliki arti yang sesungguhanya, bukan kiasan untuk menghindari perbedaan persepsi atau apresiasi.

Lalu bagaimana dengan makna hidup tadi? Apakah hidup ini telah bermakna yang sesungguhnya (denotasi), ataukan kita masuk dalam ketegori makna yang semu (konotasi)? Apakah seseorang yang kaya harta, berpendidikan dan berjabatan tinggi akan lebih bermakna hidupnya dibandingkan dengan seseorang yang miskin, berpendidikan rendah dan rakyat jelata?

Teman, bicara makna hidup ternyata memiliki prespektif bahasan yang luas dan tidak akan habisnya, karena "makna" akan memiliki arti yang sesungguhnya manakala hidup telah berakhir, hanya Yang Maha Esa yang mengetahuinya. Yang kutahu pasti, hidup ini akan lebih bermakna apabila hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dibandingkan hari ini dengan tetap beriman, mengajak kebaikan terhadap sesama, saling menasehati dan bersabar.

sekali lagi, ijikan saya mengucapkan: " Selamat tahun baru teman, semoga 2012 akan lebih bermakna dalam hidup kita dan untuk sesama ... "

Friday, June 24, 2011

Tiga Kunci Memulai Bisnis Dengan Cepat


Ada tiga kata penting untuk memulai bisnis dengan cepat, yaitu; (1) Memulai dari kecil – small: jangan berupaya untuk membesarkan dulu. Kemudian, (2) keep it simple: sederhana. (3) Dan selalu upayakan kekhususan atau specialized: fokus.


Kenapa memulai dari kecil? karena kalau bisnis itu dimulai dari kecil, maka biaya yang dikeluarkan akan aman, karyawan akan aman, pengelolaan anda akan lebih detil atau menyeluruh. Yang terpenting dalam proses ini adalah fokus bagaimana bisnis kita dapat memenuhi kebutuhan, keinginan atau harapan target pelanggan kita sehingga mereka puas dengan produk yang ditawarkan dan kita menghasilkan laba.

Sesederhana mungkin, karena bukan kita saja yang bingung, bisa jadi pelangganpun akan bingung kalau bisnis dimulai dengan besar, karena kita masih baru! Upayakan sesederhana mungkin, tetapi efektif melayanai pelanggan kita dan efektif dikerjakan oleh setiap individu dalam bisnis kita.

Selanjutnya jaga specialized, fokus. Karena dengan demikian semua resources, biaya, modal peralatan, karyawan, keterampilan semuanya bisa fokus untuk menyelesaikan satu masalah yang jelas. Selain itu pelanggan kita akan mudah mengenalnya karena sangat khusus. Apabila bisnis sudah dikenal lebih khusus maka kita akan lebih mudah menang dalam bersaing, Karena pembandingan selalu datang dari jelasnya fokus.


(inspirasi dari Om Mario Teguh)

Friday, June 25, 2010

Ide Bisnis dan Rencana Usaha

Apa kabar teman,

Saya kira ide yang kreatif akan lahir bersumber dari pemahaman atas kebutuhan dan keinginan (peluang) yang disertai dengan suatu keterampilan (Kompetensi). Apa bila tidak, maka ide hanya sekedar ide ... tampa realisasi




Darimana modalnya? Bagaimana kalau kita wujudkan ide bisnis tersebut menjadi sebuah rencana usaha (Business plan) yang benar-benar layak apa bila diwujudkan menjadi bisnis. Tentu kita harus kerja keras untuk mewujudkannya, dimulai dari melakukan riset pasar, membuat rencana pemasaran, rencana mengelola dan rencana keuangan.

Inilah investasi (keuntungan tertunda) kita sekaligus modal yang tidak akan pernah habis. Semakin teruji rencana bisnis kita, maka akan semakin meyakinkan untuk memperoleh modal pinjaman dari saudara, teman atau pemodal (investor) atau kita ajukan ke program pemerintah (bantuan) atau LSM (biasanya hibah) dsb. Atau karena yakin dengan renana bisnis tersebut, maka bisnis akan kita mulai dari yang kecil terlebih dahulu lalu perlahan-lahan kita besarkan, atau setelah bisnis berjalan kita mencari mitra (bekerjasama) agar lebih cepat menjadi besar

Ide Bisnis & Rencana usaha = mimpi kita, harapan kita yang membuat hidup ini semakin menggairahkan ...

Wednesday, June 23, 2010

Ide Bisnis


Setiap bisnis berasal dari sebuah ide. Ide Bisnis bisanya bersumber dari peluang yang menggambarkan ada kebutuhan dan keinginan terhadap suatu jenis produk, barang atau jasa. Ketika menemukan peluang, Anda perlu menjelaskannya kedalam sebuah ide bisnis. Ide bisnis biasanya singkat dengan penjelasan secara rinci 4 pertanyaan sebagai berikut





Apa
Produk barang atau jasa apa yang akan dijual? Ide bisnis harus berdasarkan pada yang terbaik yang Anda miliki untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan calon pelanggan kita. Mungkin Anda mempunyai pengalaman pada jenis bisnis tertentu atau Anda mempunyai keterampilan atau memiliki informasi yang memadai dari kebutuhan dan keinginan tersebut. Ide bisnis akan membantu mengarahkan apa yang sebaiknya harus dilakukan.

Siapa
Siapa yang akan membeli produk Anda? Pelanggan Anda bisa perorangan atau kelompok atau pebisnis lainnya. Mereka mungkin berada di suatu daerah atau tersebar di beberapa daerah, atau bahkan seluruh daerah. Apakah Anda hanya akan menjualnya kepada jenis pelanggan tertentu atau ke semua orang di suatu daerah? Sangat penting untuk menggambarkan secara jelas; kepada siapa produk Anda akan dijual?

Bagaimana
Bagaimana cara Anda menjual produk? Jika berencana untuk membuka sebuah toko, tentu hal ini akan mudah. Tetapi, bagaiman jika ide Anda memproduksi atau menjual jasa? Bagaiman kalau kita memiliki keterbatasan tempat?

Yang Mana
Kebutuhan dan keinginan pelanggan yang mana yang akan dipenuhi? Dengarkan calon pelanggan Anda, apa yang dibutuhkan dan apa yang mereka inginkan?

Produk Anda (barang atau jasa) harus menawarkan sesuatu yang “khusus” dan ”Berbeda” dibandingkan produk yang sejenis dari pesaing. Jika menawarkan terlalu banyak jenis produk ke berbagai macam jenis pelanggan, kita akan sulit untuk tetap eksis dan diperhatikan oleh mereka. Tetapi jika kita mengkhususkan satu atau sedikit produk yang ditawarkan kepada pelanggan yang spesifik, maka akan semakin mudah diterima oleh pelanggan.

Kebanyakan pengusaha baru membuat kesalahan yang sama ketika mereka mengembangkan ide bisnis. Mereka berpikir bahwa pasti akan ada permintaan dari pelanggan. Produk barang atau jasa yang baru bukan berarti akan selalu terdapat permintaan. Pada saat memulai bisnis, pastikan terlebih dahulu bahwa ide bisnis Anda berdasarkan kebutuhan dan keinginan pelanggan

Monday, April 5, 2010

3 kompetensi Kunci Untuk Para Profesional

Roda waktu terus bergerak, dan hidup terus menggelinding. Dalam perjalanan panjang itu kita terus menerus diminta untuk merekahkan segenap potensi dan kapabilitas. Kita terus ditagih untuk membentangkan ruang pertumbuhan agar self-competency bisa selalu bermekaran. Sebab, tanpa spirit untuk melakukan never ending self-improvement, tidakkah itu berarti kita telah membunuh asa untuk menjadi insan yang lebih sempurna?



Dan persis disitulah kita kemudian digedor pertanyaan yang bunyinya begini : adakah kompetensi kita hari ini lebih baik dibanding sebulan atau setahun silam? Adakah kompetensi kita selama ini bisa terus dibentangkan menuju titik-titik kesempurnaan? Atau sebaliknya : selama ini kompetensi kita going nowhere - redup dan kian terkoyak ditengah roda waktu yang terus bergerak?

Namun pertanyaan lain yang mungkin tak kalah penting adalah ini : kalaulah kita masih punya spirit untuk terus bergerak, untuk terus melenting, untuk terus menemukan ruang dimana kompetensi kita bisa menemukan tempat terindah agar tumbuh bermekaran; maka jenis kompetensi apa yang layak dikuasai? Kepingan kompetensi seperti apa yang mesti didekap erat agar kita bisa menjadi insan yang lebih sempurna, insan yang lebih paripurna?

Ditengah keriuhan hari Senin pagi yang mulai membuncah, ditengah tumpukan pekerjaan yang sebentar lagi mungkin akan menenggelamkan Anda – maka ijinkan saya untuk menyelipkan sekeping narasi tentang 3 jenis kompetensi yang barangkali penting untuk direnungkan. Ada begitu banyak ragam kompetensi yang mungkin harus kita kuasai; namun tiga kompetensi ini merupakan core competencies yang patut ditelisik dengan penuh kesungguhan. Inilah tiga jenis kompetensi yang barangkali akan membekali kita dalam petualangan panjang menjadi insan yang kian sempurna.

Kompetensi yang pertama adalah ini : strong need for achievement. Gantungkan cita-citamu setinggi langit, nak. Begitu kidung yang dulu pernah kita dengar dengan penuh nada syahdu dari ibu kita. Tidak pernah orang tua kita berujar : gantungkan cita-citamu setinggi plafon rumah, nak.

Maknanya jelas : hidup kita terasa akan lebih sumringah kalau saja dalam raga ini bersemayam sejenis keteguhan untuk mengukir hasil kerja terbaik. Sebuah orientasi yang kental dengan semangat untuk merajut sebuah karya yang bermakna (meaningful achievement). Sebuah sikap untuk mempersembahkan kepingan pekerjaan yang layak diapresiasi.

Dan sungguh, orientasi semacam itu akan mendorong setiap insan untuk menghamparkan tanggungjawab dan dedikasi, kegigihan dalam bekerja, keihklasan dalam bertindak, dan spirit saling bekerjasama demi tercapainya common goals and purposes. Tidakkah lingkungan kita (kantor, organisasi, perusahaan) akan menjelma menjadi taman yang begitu indah kalau setiap insan bisa punya kompetensi semacam itu?

Kompetensi yang kedua adalah ini : learning spirit. Alunan ilmu terus mengalir sederas ombak di lautan, dan pengetahuan terus menetes seperti hujan di pagi hari. Lalu kalau kita tidak memiliki kegairahan untuk terus memetik sejumput ilmu, bukankah kita hanya akan menjadi manusia-manusia yang tidak relevan?

Itulah kenapa kompetensi ini begitu penting : sebab dengan semangat untuk meringkus kepingan pengetahuan yang luas membentang, benih ketrampilan dan keahlian kita bisa terus tumbuh berkembang. Itulah kenapa Anda harus terus menenggelamkan diri Anda dalam beragam aktivitas pembelajaran : ikut seminar atau pelatihan yang relevan, menjelajah pengetahuan secara online, rajin membaca buku, atau selalu bergairah untuk melakukan sharing knowledge dengan rekan sekantor.

Kompetensi yang terakhir adalah : spirituality intelligence. Tentu saja hidup akan lebih mulia dan indah kalau segenap pekerjaan yang kita lakukan di kantor selalu bisa ditautkan pada sejenis pengabdian kepada Sang Pemberi Pekerjaan. Inilah sebuah kompetensi yang akan terus mengajak kita untuk terus bersandar pada etika moralitas, perilaku kerja yang sarat integritas, dan juga kuyup dengan tindakan yang penuh keluhuran.

Dan itulah sejenis kompetensi yang akan terus menggandeng kita untuk tenggelam dalam aura religiusitas yang menghanyutkan dan kemuliaan hidup yang menentramkan.

Sidang pembaca Blog Strategi + Manajemen yang budiman, demikianlah tiga jenis kompetensi dan etos hidup yang mungkin layak kita genggam dengan sepenuh sukma.

Achievement orientation yang menggumpal. Learning spirit yang terus membahana. Dan semuanya dibalut dalam spirituality intelligence yang penuh keagungan. Hidup barangkali akan terasa begitu wangi kalau saja kita bisa menjalankan tiga kompetensi ini dengan penuh keteguhan.

disadur dari http://strategimanajemen.net/2010/03/29/3-kompetensi-kunci-untuk-para-profesional-sejati/

Sunday, March 21, 2010

Inspirasi dari desa Labuan, Selong - NTB

Abon Ikan ”Ibu Rukmini”

Sumber Inspirasi akan selalu ada dimana saja dan terkadang tidak terduga. Suatu hari dalam kunjungan terakhir saya di kota Selong – Lombok Timur, badan dan pikiran yang semula lelah dan sumpek berubah menjadi semangat berlapis baja setelah bertemu dengan Novi .

”Mimpi saya, Abon Ikan akan menjadi ciri khas produk makanan daerah kami ”, ujar Novi salah seorang alumnus pelatihan SYB dari desa Labuan – Lombok Timur. Semula ia menjual ikan bakulan secara serabutan sejak tahun 2003 di Pasar Rakyat dekat rumahnya, setelah mengikuti pelatihan Start Your Business (SYB) yang diselenggarakan oleh Yayasan Advokasi Buruh Migran Indonesia (ADBMI) di Selong pada tahun 2007, ia melihat peluang membuat produk abon ikan.

Novi membuat Rencana Usaha dan mengajukan pinjaman sebesar Rp. 2 juta kep
ada Lembaga Keuangan Mikro ABMI. Mengapa Abon Ikan? Bagi Novi, memproduksi abon ikan lebih menguntungkan dibandingkan sekedar menjual ikan bakulan. Selain itu, ia dapat menampung ikan hasil tangkapan masyarakat disekitarnya sekaligus memperkerjakan para mantan Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang banyak berasal dari daerahnya. ”Sekarang saya memperkerjakan sekitar 10 orang ibu-ibu mantan buruh migran dan keluarganya, saya senang karena selain mendapatkan penghasilan juga dapat membantu mereka. Hidup terasa lebih berarti ” ujarnya .

Bagi Novi, SYB telah membantun dirinya mencari ide bisnis, mengelola keuangan (arus kas), menjalin kemitraan saat membangun bisnis dan strategi pemasaran. ”Setelah mengikuti pelatihan, saya menjadi lebih mengerti bagaimana berbisnis, terutama saat menjalin kemitraan dan melakukan pemasaran” ujarnya. Bagi Novi, kemitraan, kejujuran dan kepuasan pelanggan adalah kunci utama sukses dalam berbisnis

Ketika ditanya; mengapa merk produknya ”Ibu Rukmini”? Novi menjelaskan : ”Rukmini nama ibu saya, ia yang mengajarkan saya bagaimana membuat Abon Ikan, ia berjasa membuat hidup saya menjadi lebih baik sekarang.” Kini, Abon Ikan ”Ibu Rukmini” sudah beromset rata-rata 25 kg perbulan dan menjadi salah satu menu makanan vaforit bagi mereka yang menunaikan ibadah haji di Selong karena mudah dibawa, tahan lama dan tentu terasa nikmat. Novi terus berupaya mengembangkan bisnisnya, ” saat ini saya sedang mencari mesin mesin pres dan lem untuk kemasan serta timbangan di gital” ujarnya.

Anda berminat abon ikan dari Labuan - Selong? Silahkan kontak Langsung; Novi no telp. 081
8057 16085

Teman, sumber Inspirasi bisa datang dari mana saja ...

Thursday, December 17, 2009

6000 Km Perjalanan Trainer SIYB ILO-EAST di Sulawesi Selatan (sebuah pengalaman)

Misi : ”Menciptakan wirausaha baru dari anak muda yang putus sekolah , berusia 15 hingga 29 tahun sebanyak 2000 orang di 7 kabupaten : Makasar, Gowa, Takalar, Bantaeng, Wajo, Tana Toraja dan Toraja Utara “



Persoalan dilapangan yang dihadapi ternyata cukup kompleks. Selain masalah lokasi yang berjauhan dan teknis, kita terkadang juga dihadapkan oleh masalah rendahnya latar belakang pendidikan, masalah keluarga dan masalah sosial lainya


Dalam proses pelatihan, sering ditemui Ide Bisnis peserta masih labil, mudah berubah-ubah (sekedar ikut-ikutan) atau bahkan sama sekali tidak punya Ide Bisnis. Dalam kondisi ini, kami harus dituntut ekstra (terutama kesabaran) untuk mendengarkan permasalahan dan mengeksplorasi potensi peserta serta memberikan pencerahan gagasan sekaligus terus memotivasi mereka agar tidak patah semangat mewujudkan bisnis.


Mengapa kondisi ini bisa terjadi? Salah satu faktor adalah karena kita tidak melakukan proses seleksi dengan benar, jumlah calon peserta sudah ditentukan terlebih dahulu secara instan oleh lembaga mitra proyek kita, sehingga seluruh peserta dapat lulus dengan kondisi apapun. Mereka lupa bahwa SIYB adalah manajemen bisnis dengan persyaratan yang spesifik, tidak semua orang bisa mengikuti pelatihan ini.

Namun demikian, selalu saja ada peserta yang langsung dapat membuka usahanya setelah mengikuti pelatihan kita dan biasanya dilanjutkan dengan kegiatan konsultasi dalam hal perizinan , strategi pendirian usaha maupun kemungkinan mendapatkan dukungan permodalan. Kalau sudah seperti ini, melambung rasanya dan saya membayangkan akan luar biasa hasilnya apabila proses seleksi benar-benar dilakukan dalam pelatihan kita ...

Setelah 6000 Km menempuh perjalanan memyampaikan pelatihan di 7 kota, semakin kami paham bahwa SYB ternyata tidak sebatas kegiatan pelatihan kewirausahaan, melainkan suatu rangkaian kegiatan atau tahapan untuk membentuk atau mencetak seorang pengusaha secara terencana. Dimulai dari pemahaman Pemasaran program SIYB, seleksi peserta pelatihan, analisis kebutuhan pelatihan peserta, desain, implementasi pelatihan dan akhirnya memberikan dukungan setelah pelatihan kepada peserta untuk menyelesaikan rencana usaha dan mewujudkan bisnis mereka. ini adalah siklus yang tidak akan berputar terus, tiada ujung seiring dengan perkembangan bisnis klien kita

Teman,.... kami semakin paham dan sadar bahwa pelatihan hanyalah salah satu rangkaian proses siklus tersebut, selebihnya kita dituntut untuk memiliki komitmen dan kepedulian terhadap sesama serta kemampuan untuk menempatkan diri diantara mereka. Selain trainers, kita dituntut berperan sebagai Problem Solver, motivator dan menjadi teman yang dipercaya oleh mereka. Semangat ini ternyata telah memberikan nuansa tersendiri, karena tampa sadar kita telah turut berperan membantu merancang masa depan mereka ....

Dari catatan seorang teman trainers SIYB – EAST di Makasar - SULSEL














Tuesday, September 29, 2009

3 Pilar dalam Merajut Profesionalisme


Dalam bentangan perjalanan hidup yang terus bergulir, ada baiknya kita mencoba untuk sejenak membincangkan cerita tentang etos profesionalisme. Sebab kita tahu, terbitnya etos kerja yang profesional adalah sebuah rute kunci menuju jalan keberhasilan.

Tanpa dilumuri oleh etos kerja yang penuh profesionalisme, kita mungkin akan mudah tergelincir menjadi barisan para pecudang. Tanpa kesadaran batiniah untuk menjejakkan etos profesionalisme dalam segenap raga, kita mungkin akan segera menjadi insan-insan yang gagap dengan dinamika perubahan. Miskin prestasi, dan absen dari perjalanan panjang menuju manusia produktif, mulia nan bermartabat.

Kalaulah demikian adanya, lalu apa yang mesti diteguk untuk menjadi insan yang kuyup dengan guyuran etos profesionalisme? Disini kita mencoba mengeksplorasi tiga pilar kunci yang rasanya layak dicermati manakala ada asa untuk menjadi insan yang profesional.

Pilar yang pertama adalah achievement orientation. Dulu, seorang sosiolog terkemuka bernama David McLelland pernah menulis : salah satu faktor yang membuat sebuah komunitas/masyarakat lebih unggul dibanding yang lainnya adalah lantaran mereka dipenuhi dengan individu yang punya high need for achievement (atau sering disebut sebagai NAch = need for achievement).

Disini, need for achievement merujuk pada gairah untuk melakoni kerja yang sebaik-baiknya demi terengkuhnya hasil karya yang juga layak dibanggakan. Disana yang muncul adalah sebuah etos, sebuah dedikasi, dan sebuah tanggungjawab untuk meretas prestasi terbaik.

Ketika tugas dan tantangan membentang didepan kita, yang kemudian muncul adalah sebuah niat tulus untuk mentransformasi rangkaian tantangan dan tugas itu menjadi sebuah prestasi kerja yang adiluhung.

Orang-orang yang memiliki High NAch selalu percaya bahwa berderet tugas – apapun tugas dan pekerjaan itu – selalu merupakan sebuah rute untuk mempersembahkan karya terbaik. Dan sungguh, inilah elemen kunci yang mesti dipahat oleh siapapun yang berkehendak menjadi insan yang profesional.



Pilar profesionalisme yang kedua adalah ini : sebuah ikhtiar untuk terus belajar mengembangkan kompetensi diri. Sebuah tekad yang dibalut oleh semangat untuk mempraktekkan prinsip lifetime learning (belajar sepanjang hidup). Bagi mereka selalu akan ada celah dan ruang untuk terus memekarkan potensi dan kapasitas diri. Selalu akan ada jalan untuk merekahkan pengetahuan, membasuh ilmu dan merajut ketrampilan.

Bagi insan profesional semacam itu, proses belajar mengembangkan kompetensi selalu bisa direngkuh dari segala jurusan. Sebab moto mereka adalah ini : everyone is a teacher and every place is a school. Sebuah kalimat yang indah bukan? Ya, sumber ilmu selalu bisa dijemput dari siapapun – entah dari seorang guru, dari atasan, bawahan, rekan kerja atau dari para pelanggan. Dan sumber ilmu juga dicegat dari lokasi mana saja : dari sekolah, dari perpustakaan, dari pasar yang penuh keramaian, atau dari lingkungan kantor yang selalu penuh dinamika.

Pilar profesionalisme yang ketiga adalah yang paling penting. Pilar itu adalah ruh spiritualitas yang kokoh. Sebab bagi kita, profesionalisme yang paling hakiki hanya akan punya makna jika ia dibalut oleh semangat spiritualisme yang kokoh. Inilah sebuah semangat yang selalu percaya bahwa segenap laku jejak kehidupan profesional kita selalu ditautkan pada pengabdian kepada Yang Maha Mencipta. “Dan sesungguhnya, sholatku, ibadahku, dan hidup matiku hanyalah untuk Tuhan Sang Pencipta Alam”.

Sebab itulah, insan yang profesional tidak hanya cerdas dalam praktek manajemen modern, namun juga mereka yang hatinya selalu rindu akan mesjid (atau rindu pada gereja bagi para umat Kristiani, atau rindu pada pura bagi para pemeluk Hindu). Insan profesional sejati tidak hanya fasih bicara mengenai strategi dan leadership, namun mereka juga senantiasa fasih berdzikir memuja kebesaran Sang Pencipta.

Dan insan profesional sejati tidak hanya tangkas mengelola tugas dan mengambil keputusan, namun mereka juga selalu mau bangun ditengah malam : berkontemplasi, membangun sebuah meeting yang sangat intens dengan Sang Pemelihara Jagat Raya.

Itulah tiga pilar yang menopang bangunan etos kerja profesional : sebuah semangat untuk merengkuh prestasi terbaik, sebuah semangat untuk terus belajar, dan sebuah semangat untuk selalu mengabdi pada Sang Pemberi Hidup. Praktekkan tiga pilar kunci ini, dan Anda pasti akan berjalan menuju Kemenangan Sejati.

Selamat Idul Fitri. Mohon Maaf Lahir dan Batin.


disadur dari Yodia Anthariksa

http://strategimanajemen.net